Merayakan ulang tahun di panti asuhan
Hari Sabtu tanggal 5 Juni 2010 saya merayakan ulang tahun yang ke 37, hmm udah gak ABG lagi hehehehe. Tidak seperti biasa ulang tahun kali ini saya rayakan bersama anak-anak balita di Panti Sosial Asuhan Anak Balita “Tunas Bangsa” di bilangan Cipayung Jakarta Timur.
Untuk diketahui Panti Sosial Asuhan Anak Balita “Tunas Bangsa” berada dibawah naungan Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta. Usia dari penghuni Panti Sosial Asuhan Anak Balita “Tunas Bangsa” kurang lebih 4 minggu sampai dibawah enam tahun, setelah itu balita yang telah melewati usia balita dikembalikan kepada orang tua masing-masing atau dikirim ke panti asuhan yang menampung anak non-balita.
Saat merayakan ulang tahun di panti asuhan balita, merupakan kunjungan kali kedua — kunjungan ini saya laksanakan bersama istri saya dan sepupunya dan keponakan serta anak angkat saya, kunjungan pertama dilakukan oleh istri saya bersama beberapa saudara sepupu. Seperti biasa sebelum masuk ke dalam panti, terlebih dahulu kami melapor ke ruang administrasi / pengurus panti, untuk melaporkan maksud dan tujuan kunjungan serta memberi tahu kepada pengurus panti atas barang bawaan yang dibawa pengunjung panti seperti makanan, minuman, pakaian dan lainnya.
Selama berada dalam ruang kerja pengurus panti menemani istri saya yang sedang berbincang dengan pengurus panti mengenai maksud dan tujuan merayakan ulang tahun dipanti, saya melihat sebuah papan tulis (white board) berukuran besar (seperti papan tulis di sekolah). Papan tulis ini merupakan resume darimana balita berasal (rumah sakit/kantor polisi/klinik). Yang berada dalam otak saya adalah pikiran subyektif terhadap orang tua dari balita yang berada di panti, mengapa demikian??? inilah gumam saya dalam hati “kami (saya dan istri) sudah 8 tahun menikah dan telah berusaha dan berdoa tapi belum dikarunia seorang anak — ini orang kok diberi karunia anak oleh Allah kok malah mengabaikan”. Memang kita tidak dapat menghakimi seseorang begitu saja, bisa saja orang tua dari balita ini meninggal dunia saat melahirkan, tidak memiliki biaya untuk menebus biaya persalinan dan pasca persalinan, atau yang lebih ekstrim (menurut saya pribadi) balita yang dititipkan ibu muda “kagetan” (remaja yang masih dalam usia sekolah/kuliah akibat pergaulan bebas — tetapi belum siap menghadapi kenyataan menjadi ibu, dan pihak laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab).
Setelah mendapat izin masuk, saya bersama rombongan bergegas masuk ke dalam panti, dan secara kebetulan anak balita sedang bermain dalam area bermain yang sederhana. Kami pun disambut oleh beberapa kakak asuh (begitu mereka biasa dipanggil), dengan segera para pengasuh memberi tahu bahwa saya merayakan ulang tahun bersama mereka para balita.
Sontak para balita yang belum mandi dan masih bau “iler” itu gembira dan bersorak. Ya begitulah anak-anak selalu spontan dan penuh keceriaan. Kemudian mereka menyanyikan lagu kebahagiaan (lagu selamat Ulang tahun dan Potong Kuenya) yang sudah ribuaan bahkan jutaan kali dinyanyikan (hmm emangnya pernah ngitung ya??).
Setelah selesai bernyanyi kemudian dilanjutkan dengan doa “kecil” tapi penuh makna. Oleh karena beberapa anak balita ada yang sedang menderita sakit flu, maka kue tar tidak bisa dibagikan dan untuk menghindari kue yang mengotori ruangan.
Bingkisan ulang tahun yang dibagikan oleh saya bersama istri dan kakak pengasuh panti asuhan balita, dalam sekejab suara plastik bungkusan “kresek-kresek-kresek” terdengar ramai, bocah-bocah itu dengan semangat membuka makanan yang mungkin saja tidak tiap hari mereka bisa dapatkan apalagi untuk membeli.
Hati saya begitu terenyuh ketika para anak balita tersebut membuka bingkisan makanan ringan ala kadarnya yang saya sudah siapkan sehari sebelumnya.
“Kakak” tolong buka bungkusnya dong” ujar seorang bocah balita bergigi ompong kepada pengasuh, balita lainnya pun mengahukan permintaan yang sama dengan temannya tadi — kemudian berkata “Bapak, Bapak buka yaa bungkusnya!!” ujar seorang anak balita perempuan kepada saya, saya pun mengangguk dengan hati terenyuh, kemudian saya meminta bantuan istri untuk membantu anak balita yang sudah tidak sabar membuka bingkisan makanan ringan untuk balita yang telah dibagikan.
Satu hal yang membuat anak balita berbeda dengan balita lain yang tiap hari bersama kedua orang tuanya, adalah kebersamaan dalam keberagaman. — Semua diperlakukan sama tanpa melihat latar belakang keberadaan mereka dipanti, latar belakang orang tua, usia dan jenis kelamin. Anak balita yang berada dipanti pun tidak segan untuk berbagi susu dan makanan, selama saya beberapa kali berkunjung tidak ada yang sampai bertengkar hebat bilamana sebotol susu yang sedang nikmat diminum melalui botol tiba-tiba diminum oleh temannya bila botol susu itu sekian lama (bisa jadi dalam hitungan menit). Saya sempat tersenyum simpul tertawa dalam hati ketika anak balita yang masih merangkak tiba-tiba mengambil makanan kakaknya yang sudah berumur 2 tahun (“ah dasar anak-anak gumam saya dalam hati”) — melihat keadaan ini hati saya terhibur dan sejenak melupakan masalah — benar juga kata orang “Anak itu permata hati” semoga saya diberi kesempatan suatu saat nanti — AMIN.
.:: Sebuah catatan yang terlupa untuk dipublikasi –tanpa disadari saya sudah simpan artikel ini sebagai draft :p selama berbulan-bulan sejak kunjungan ke panti asuhan balita — namun tidak ada salahnya untuk berbagi cerita dalam lorong waktu dan selanjutnya untuk kejadian/peristiwa yang sudah berlalu tapi menarik untuk ditulis dalam blog akan saya tulis dalam katagori “Lorong Waktu” ::.









Saya tersentuh sekali membaca cerita Anda. Jadi terbesit janji di hati saya untuk merayakan ultah saya atau istri atau anak di panti asuhan balita ini.
Terima kasih atas sharingya. Salam kenal. Keep blogging.
Rizki Abe
October 15, 2010
saya baru membaca tulisan anda. saya ingin bertanya, apakah di panti asuhan ini kita juga bisa mengadopsi anak asuh? saya dan suami ingin sekali memiliki seorang anak. karena memang kami tak dikaruniai seorang anak, maka kami berniat mengadopsi anak. Jika saya ingin berkunjung ke poanti asuhan ini, perlukah membuat appointment terlebihdahulu? kalau anda punya no kontak, senang sekali kalau saya bisa mendapatkan no phone dan alamatnya. terimakasih atas tulisan dan infonya
Mila Tobias
Mila Tobias
August 29, 2011
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih – untuk ibu Mila, atas kunjungannya ke blog saya
panti asuhan ini memberikan kesempatan untuk kita bila kita ingin mengadopsi anak atau bayi
yang mereka asuh dengan beberapa kriteria (ini kalo tidak salah – kalo mo lebih jelas bisa ditanyakan ke pihak panti):
1. Minimal sudah 2 tahun menikah. (dibuktikan dengan surat nikah)
2. Memiliki pekerjaan tetap dan berbadan sehat
3. Bayi yang kita ingin adopsi harus melalui masa pendekatan selama kurang lebih 6 bulan
4. Setelah kita merasa cocok dan sudah mantap akan diadakan perjanjian yang disahkan oleh pengadilan dan notaris
5. Bila ingin lebih jelas silakan berkunjung dan bertanya kepada pihak panti
Kalo ingin berkunjung bisa tanpa harus melakukan perjanjian terlebih dahulu,
kalo mo membawa makanan silakan, asal jangan permen atau eskrim (itu buat saya aja hehehe)
maaf saya lupa nomor telepon panti asuhan tersebut, yang pasti lokasinya berada di daerah ceger, cipayung jakarta timur.
untuk diketahui panti asuhan ini berada dibawah naungan dinas sosial DKI Jakarta – Jakarta Timur.
Semoga niat baik ibu Mila dan suami dapat tercapai amin.
Sekedar informasi saat ini Alhamdulillah saya sudah memiliki seorang puteri lucu dan imut yang tanggal 11 September 2011 berusia 5 bulan.
yaayaat
September 6, 2011